Kamis, 30 Mei 2013

Puisi


Menunggu Hujan

Petir menyambar-nyambar kencang
Langit menghitam kala itu
Suara rintikan hujan yang penakut
Membawa banyak pasukannya turun
Untuk membasahi bumi
Mataku tertuju pada sosok-sosok di sekelilingku

Sosok pertama
Lelaki separuh baya
Berpawakan tinggi kurus
Tepat berada di mukaku
“Mas ngapunten nderek ngiyup”
Itulah ucapan dari bibir bekunya
Aku tersenyum kelu
Kataku dalam hati,
Orang ini benar-benar berwibawa
Bagaimana tidak?
Ia mau menyapa dengan sopan  
Orang yang lebih muda darinya

Sosok kedua
Sepasang sejoli yang menjalin cinta
Yang satu tampan dan yang satunya cantik
Serasi sekali mereka
Namun.....
Ada satu hal yang menarik perhatianku
Sebuah pengorbanan cinta tanpa pamrih
Diperlihatkan melalui sikap yang sederhana
Bagaimana tidak?
Lelaki itu memberikan jaketnya kepada wanita itu
Saat wanita itu terlihat diam membeku tersapu hujan

Sosok ketiga
Seorang Ibu yang menggendong erat bayinya
Benar kata pepatah
Kalau kasih Ibu itu sepanjang masa
Bagaimana tidak?
Ia rela merasakan dingin asalkan
Anaknya tidur lelap di pelukannya
Sembari menunggu hujan mereda

Sosok keempat
Dua pemuda berbaju hitam-hitam
Menurutku....
Orang ini tidak sopan
Bagaimana tidak?
Ia melepaskan asap-asap racun dari mulutnya
Tanpa melihat orang-orang disekitarnya

Masih banyak sosok-sosok lain yang ada di sini
Namun diantara kami semua
Ada satu persamaan dari kami
Yaitu sebuah pertanyaan,
TUHAN.... kapan hujan ini reda?


Karya : Buono Aji Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

 

Great Morning ©  Copyright by Buono Aji Santoso | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks